Ketika kebutuhan pokok makin terasa mahal dan penghasilan tak selalu pasti, bantuan sering kali datang bukan hanya sebagai solusi finansial, tapi juga sebagai penenang pikiran. Itulah konteks mengapa Pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT Dana Desa) Triwulan IV Tahun 2025 di Desa Neglasari menjadi momen yang lebih dari sekadar penyaluran dana.
Ini bukan acara formal yang kaku. Ada rasa. Ada empati. Ada pesan yang ingin ditanamkan jauh setelah uang diterima dan dibelanjakan.
Pada pembagian BLT kali ini, Bapak Kepala Desa Neglasari, Bapak Tating Sutiana, tidak dapat hadir secara langsung karena harus menjenguk orang tua dari Ibu Kepala Desa, Ibu Nunung Rismawati, yang sedang sakit. Namun ketidakhadiran tersebut tidak mengurangi makna acara.
Justru sebaliknya.
Acara dibuka dengan doa bersama, memanjatkan harapan kesembuhan dengan membaca Surat Al-Fatihah. Sebuah pembuka yang jarang ditemui dalam agenda bantuan sosial, namun terasa sangat relevan. Ini adalah pengingat halus bahwa di balik kebijakan dan anggaran, ada nilai kemanusiaan yang dijaga oleh Pemerintah Desa.
Kehadiran Kepala Desa diwakili oleh Sekretaris Desa Neglasari, Bapak Yusep Indriyana, yang tidak hanya menjalankan peran administratif, tetapi juga menyampaikan amanat langsung dari Bapak Kepala Desa—pesan yang jujur, tegas, dan berpihak pada kebaikan jangka panjang warga.
Ada tiga poin penting yang disampaikan, dan semuanya menyentuh realitas hidup masyarakat:
Pertama, soal cara menggunakan uang BLT.
BLT sebesar Rp 900.000,- per orang memang terasa besar jika dipegang sekaligus. Tapi pesan yang disampaikan jelas: belanjakan untuk kebutuhan pokok. Beras, lauk, obat, keperluan rumah tangga. Bukan untuk hal konsumtif yang habis tanpa bekas. Insight ini penting, karena tidak semua bantuan gagal karena kurangnya dana—sering kali gagal karena salah prioritas.
Kedua, soal pergantian KPM di tahun 2026.
Ini poin yang jarang diucapkan secara terbuka. Jika nanti terjadi pergantian Kelompok Penerima Manfaat (KPM), masyarakat diminta untuk tidak menyalahkan Kepala Desa. BLT bukan hak permanen, melainkan bantuan sementara. Pesan ini menunjukkan transparansi dan keberanian Pemerintah Desa untuk jujur sejak awal, agar tidak tumbuh ekspektasi yang keliru.
Ketiga, soal ibadah.
Di tengah pembahasan ekonomi, amanat untuk tidak meninggalkan shalat lima waktu kembali ditekankan. Ini bukan nasihat kosong. Banyak yang lupa bahwa ketahanan mental dan spiritual sering kali menjadi penopang utama ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
BLT Dana Desa Triwulan IV Tahun 2025 ini diberikan kepada 20 Kelompok Penerima Manfaat, masing-masing menerima Rp 900.000,-. Secara angka, ini bantuan. Tapi secara makna, ini adalah kepercayaan.
Kepercayaan bahwa masyarakat Desa Neglasari mampu menggunakan bantuan dengan bijak. Kepercayaan bahwa warga memahami tujuan program, bukan sekadar hasil akhirnya. Dan kepercayaan bahwa hubungan antara desa dan masyarakat dibangun di atas kejujuran, bukan janji manis.
BLT Dana Desa bukan solusi instan untuk semua persoalan. Tapi ketika disalurkan dengan pendekatan humanis seperti ini, dampaknya bisa jauh lebih panjang daripada nilai uangnya.
Gunakan dengan bijak.
Pahami bahwa bantuan ada batasnya.
Dan jangan lupa menjaga nilai-nilai yang menguatkan hidup.
Karena di Desa Neglasari, BLT bukan hanya tentang menerima—tetapi tentang tumbuh bersama, dengan kesadaran dan tanggung jawab.